Minggu, 11 Oktober 2009

ADVERTISING

The lifeblood of newspapers

Sangat sedikit surat kabar yang memulai hidupnya dengan tujuan utama sebagai penghantar bagi perusahaan-perusahaan pengiklan. Mereka meluncurkan dirinya dengan tujuan yang lebih mulia . Yang menjadi masalah adalah, tujuan mulia, bagi mereka, tidak menjamin kesuksesan penerbitan-atau tentu saja, bertahan hidup.

Sejarah Koran dikotori dengan bangkai gelar yang muncul sebagai tanda duka cita dengan sangat cepat saat editorial yang menyebarluaskan agama tidak cocok kedengarannya dengan logika komersial.

Eksekutif surat kabar jarang melihat dirinya terikat secara khusus dalam aktivitas ekonomi. Bukan, Koran cenderung sejajar dengan jenis budaya kependetaan yang membuat industry ini, misalnya Gereja Katolik, misterius, tidak dapat dimengerti dan keseluruhan hidup yang berbudi. Hal ini memelihara legenda editor yang bersifat kepahlawanan yang mempertentangkan pemerintah dan manajemen mereka, dan pemilik organisasi yang tidak konvensional menekan diseleksinya politik kronis pada waktu pemilihan.

Hirarki internal dan organisasi dari surat kabar menguatkan tiruan pemisahan fungsi operatif dari tujuan ekonomi. Hampir mencakup sedunia perbedaan antara ‘ Editorial’ dan ‘Komersial’ dalam bisnis, dengan makanan yang diangkat oleh seorang koki sama seperti jika mereka tidak memiliki entah apapun untuk dilakukan dengan restoran, pemilik restoran, atau tentu saja, dengan pelanggan!

Kenyataan dari masalah ini ialah kecuali kalau keuangan yang sehat, mereka tidak bisa tetap di bisnis. Mereka tidak dapat menjadi sehat kecuali kalau ada pasar untuk produknya; bahkan saat ada permintaan yang tetap untuk produk tsb, banyak surat kabar yang membeli kayu bakar dari pohon Jarum dari Kanada, menaruhkan cat hitam ke atasnya dan menyebarkannya ke pelanggan lebih kecil daripada harganya. Di sinilah, pertarungan dimulai bagi periklanan untuk tetap menjaga pertunjukan berjalan.

Penghasilan bagi surat kabar.

Dua sumber penghasilan yang ada bagi surat kabar harian : penghasilan sirkulasi dari penjualan ke pembaca, dan penghasilan iklan dengan menjual ‘ruang’ dalam setiap kolom pada halaman.

Penghasilan sirkulasi diperoleh dari harga per sampul Koran, dilipatgandakan dengan penjualan kopiannya, sedikit komisi untuk agen. Komisi untuk agen variasi dari 30-40 % tiap harga sampul. Di berbagai Negara berkembang, pemerintah dengan aktif mencegah kenaikan harga dari surat kabar dengan alas an/dasar pemikiran bahwa kekuatan dunia adalah dasar atas jalannya fungsi sebuah demokrasi. Lagipula, tujuan dengan pertumbuhan sirkulasi sama dengan ukuran kesuksesan dalam industri, menuntun banyak jenis manajemen untuk menjaga harga serendah mungkin agar tidak membahayakan penjualan sirkulasi.

Di dalam lingkungan persaingan srt kbr, mereka memilih untuk menyulap rating periklanannya untuk mengejar shortfalls dalam harga per sampulnya daripada resiko penurunan sirkulasi.

Kualitas pers menarik Penghasilan

Segera setelah televisi menggantikan Koran sebagai media yang efektif dengan biaya terbesar dalam mencapai massa dalam iklan atas produk konsumen massa, teknik ‘target pemasaran’ telah dipersiapkan oleh pengiklan untuk menyocokkan produknya dengan karkater spesifik dari pembaca surat kabar.

Pembaca surat kabar menunjukkan tingkat-tingkat kelas social dan keaneka ragaman pendapatan yang mengijinkan definisi atas konsumen total didasarkan pada sekmen target pasar. Terpisah dari profil demografis atas pembaca, umur, jenis kelamin, kepribadian dan pendapatan rumah tangga, tingkat pendidikan, profesi dll, pola penyebaran geografis juga mendefinisikan jenis pembaca. Penyebaran di sebuah kota besar adalah lebih bernilai bagi pengiklan atas produk mahal daripada sirkulasi di pedesaan yang besar.

Untuk menaikkan pasar pengiklan, kualitas jumlah pembaca atas sebuah srt kabar adalah jauh lebih penting dibandingkan kuantitas. Teknik penelitian kepuasan media sekarang membuatnya ada bagi pengiklan dan agensi, yaitu data yang sangat detil atas profil pembaca dari tiap surat kabar.

Perencana agensi media telah dilatih untuk menggunakan figure penelitian media yang mana untuk menjadi dasar rekomendasi bagi klien mereka.

Eksploitasi ruang putih.

Pemilik media dengan demografis yang ‘benar’ dan psikografis profil audiens memiliki pilihan yang lain untuk menjual ruang putih dengan tujuan ROP biasa untuk iklan. Pengelompokan penghasilan adalah daya tarik yang lebih besar bagi srt kbr dengan beberapa alas an : ini menarik aliran yang tetap dari iklan-iklan kecil perorangan, dan perundang-undangan dan peringatan keuangan dari badan hokum, dengan kisaran harga 30-40 persen lbh tinggi daripada ukuran ROP dalam menampilakan iklan. Seluruh pengghasilan yang diperoleh adalah bersih untuk Koran karena tidak ada komisi yang dibayar bagi agensi periklanan untuk klien langsung.

Srt kabar yang lebih sukses menghasilkan 60 persen dari total periklanan dari pengelompokan sendiri.

Kesimpulan

Kepribadian editorial dan daya tarik sebuah srt kbr menentukan apakah dia termasuk popular atau produk ‘kualitas’. Editor adalah berlaku bagi pengelola merk ats sebuah produk. Kecuali kalau editor sepenuhnya memahami kealamian si pembaca dan alas an mereka dalam membeli produknya, mereka akan menginginkannya.

Pers yang popular adalah secara berat bergantung pada penghasilan sirkulasi untuk pertumbuhan bisnis. Seperti srt kbr dapat mengejar massa konsumend engan produk seperti rokok, pasta gigi, sepatu sekolah, makanan cepat saji dsb dimana mereka akan menghadapi persaingan ketat dengan televise. Karena ini tidak dapat menyediakan sekmen audiens, televise akan digunakan secara umum sebagai media konsumen massa nasional, diperkuat oleh pers popular bagi periklanan local atau regional untuk kebutuhan dasar.

Pers yang ‘berkualitas’ akan menarik ketidakseimbangan tinggi suara periklanan untuk meningkatkan pasar produk karena mereka menawarkan focus pencapaian atas puncak piramida sosio-ekonomis dengan pembuangan sia-sia yang minimum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan liat-liat

silahkan liat-liat