Minggu, 11 Oktober 2009

METODE PENELITIAN KOMUNIKASI

Cara menarik ukuran sampel serta pendapat dari beberapa ahli:

1. Sampel terlapis (stratified sample).

Menurut WIM van ZANTEN, dalam teknik pengambilan sampel terlapis, populasi dibagi-bagi dalam lapisan, yang disebut juga subpopulasi atau stratum. Dari setiap lapisan ditarik suatu sampel bagian secara random :

Populasi ; besar N

Lapisan 1 Lapisan 2 Lapisan L

Besar N1 Besar N2 Besar NL

Sampel bagian 1 (random) Sampel bagian 2 (random) Sampel bagian L (random)

Besar n1 Besar n2 Besar nL

Jadi populasi terdiri dari N = N1+N2+…+NL unsur. Sampel terlapis terdiri dari n = n1+n2+n3+…+nL unsur, dimana dari lapisan ke-j ditarik sebuah sampel random berisi nj unsur (j=1,2,…L)

Menurutnya, sampel terlapis biasanya lebih efisien daripada sampel random sederhana. Ini berlaku khususnya kalau setiap lapisan dipilih secara sehomogen mungkin terhadap variable-variabel yang diteliti.

Ada beberapa metoda untuk memilih distribusi besar sampel bagian, yaitu pilihan n1, n2, n3,..., nL supaya berlaku n1+ n2+n3+…+nL = n. Pembagian optimum ( optimum allocation ) dari n1 s/d nL tergantung pada deviasi standar dalam lapisan j (Sj), besarnya lapisan j (Nj) dan ongkos penelitian satu unsure dalam lapisan tersebut (cj). Besar sampel bagian j (nj) naik kalau sj naik, kalau Nj naik, dan kalau cj turun. Untuk pembagian sebanding (proportional allocation) berlaku :

n1/N1 = n2/N2 = n3/N3 =……….. = nL/NL = n/N

Jadi, setiap lapisan ditarik persentase unsur yang sama.

2. Sampel berkelompok (cluster sample).

Menurut WIM van Zanten, unsur populasi dibagi dalam K kelompok yang saling lepas(mutually exclusive). Dari K kelompok ditarik sampel random berisi k kelompok. Unsur-unsur dari k kelompok kesemuanya membentuk sampel random berkelompok. Jadi unsur-unsur tidaklah ditarik dan disertakan secara satu per satu, melainkan kelompok per kelompok.

Contoh : Populasi = anak-anak kelas III Sekolah Dasar di Indonesia

Kelompok anak = kelas-kelas III Sekolah Dasar di Indonesia

Pendapat Cochran, Moser dan Kalton menyatakan bahwa hubungan antara unsur-unsur dalam kelompok yang sama diukur dengan koefisien korelasi dalam kelompok (intraclass correlation coefficient) kalau variabel diukur pada skala interval atau rasio. Biasanya koefisien korelasi dalam kelompok ini bernilai positif, artinya kelompok-kelompok lebih homogeny daripada populasi. Namun, menurut Som, kadang-kadang nilainya bias negatif, artinya kelompok-kelompok kurang homogeny daripada populasi, seperti untuk variabel umur dan variabel kelamin dalam kelompok rumah tangga.

3. Sampel sistematik (systematic sample)

Menurut WIM van ZANTEN, suatu bentuk penting dari sampel random berkelompok adalah sampel sistematik. Ini adalah suatu bentuk khas dari sampel berkelompok di mana satu kelompok dipilih secara random sederhana dari sejumlah K kelompok yang membentuk populasi. Misalkan orang ingin menarik sebuah sampel sistematik berisi 10 unsur dari populasi yang terdiri dari 1000 unsur. Maka nomor urut yang akan diberikan pada unsure-unsur dikumpulkan dalam 100 kelompok yang masing-masing berisi 10 unsur.

Kel. 1 Kel. 2 Kel. 3 ........................................................ kel.100

1 2 3 100

101 102 103 200

201 202 203 300

- - - -

- - - -

- - - -

901 902 903 1000

Dari 100 kelompok ini satu kelompok ditarik secara random sederhana. Bila sampel sistematik ditarik dari suatu system kartu, ini berarti kartu pertama akan ditarik secaar random sederhana dari 100 kartu pertaam. Kalau kartu yang pertama ditarik itu ialah kartu ke-n, maka nomor-nomor unsure yang akan disertakan dalam sampel adalah :

n + 100, n + 200, n + 300,…,n + 900

4. Sampel bertahap (multi-stage sample)

Menurut WIM van ZANTEN, penyusunan sampel ini ditentukan secara bertahap. Populasi dibagi-bagi dalam lapisan; kemudian sejumlah lapisan dipilih (tahap pertama). Setiap lapisan yang telah dipilih dibagi lagi dalam kelompok. Dari setiap lapisan yang dipilih pada tahap pertama, dipilih lagi sejumlah kelompok (tahap kedua). Begitulah seterusnya dengan beberapa tahap berikutnya.

lapisan I II III IV V

(tahap ke-1)


1 2 3 4

1 2 3 4 5 6

a b c a b c d

a b c d a b c a b

Jadi, sampel terdiri dari 9 unsur yang berikut:

{II – 1 – a, II – 1 – c, II – 4 – c, II – 6 –b, V – 2 – b, V – 2 – c, V – 4 – b,V – 4 – c, V – 4 – d }

5. Gay and Diehl; berpendapat bahwa sampel haruslah sebesar-besarnya. Pendapat ini mengasumsikan bahwa semakin banyak sampel yang diambil, maka semakin representative, dan hasilnya dapat digeneralisir. Namun, ukuran sampel yang dapat diterima akan sangat bergantung pada jenis penelitiannya; a) apabila penelitian bersifat deskriptif, maka sampel minimumnya adalah 10% dari populasi, b) penelitian yang bersifat korelasional , sampel minimumnya 30 subyek, c) penelitian kausal perbandingan, sampelnya sebanyak 30 subyek per group, dan d) penelitian eksperimental, sampel minimumnya adalah 15 subyek per group.

6. Roscoe; memberikan panduan untuk menentukan ukuran sampel:

a. Pada setiap penelitian, ukuran sampel harus berkisar antara 30 dan 500.

b. Apabila factor yang digunakan dalam penelitian itu banyak, maka ukuran sampel minimal 10 kali atau lebih dari jumlah factor.

c. Jika sampel akan dipecah-pecah menjadi beberapa bagian, maka ukuran sampel minimum 30 untuk tiap bagian yang diperlukan.

7. Slovin dan Sevila; menentukan ukuran sampel dari suatu populasi dengan rumus sebagai berikut :

n =

dimana : n = jumlah sampel

N = ukuran populasi

E = batas kesalahan

8. Fraenkel dan Wallen; menyarankan, besar sampel minimum untuk:

a. Penelitian deskriptif sebanyak 100

b. Penelitian korelasional sebanyak 50

c. Penelitian kausal-perbandingan 30/grup

d. Penelitian eksperimen sebanyak 30/15

9. Malhotra; besarnya jumlah sampel yang diambil dapat ditentukan dengan cara mengalikan jumlah variabel dengan 5, atau 5X jumlah variabel. Jika variabel diamati berjumlah 20, maka sampel minimalnya adalah 100 (5 X 20).

10. Menurut Wim van Zanten, ada tiga fakyor yang diperlukan dalam menghitung besar sampel yang diambil: variasi dalam populasi, tingkat kesalahan yang ditoleransi dan tingkat kepercayaan.

Ketiga faktor tersebut dapat dirangkum dalam rumus sebagai berikut:

N=(p x q).

Dimana : (p x q) = variasi proporsi populasi

Z = ukuran tingkat kepercayaan

E = Sampling Error / kesalahan yang dapat ditoleransi

11. Sampel random sederhana.

Menurut WIM van Zanten, penarikan sampel sederhana adalah semacam prosedur undian : pada suatu penarikan tertentu, setiap unsure yang ada mempunyai probabilitas yang samauntuk dapat diikutsertakan dalam sampel.

Pada suatu sampel random sederhana, yang terdiri dari n unsure dan ditarik tanpa pemulihan dari suatu populasi berisi N unsure, maka:

Penarikan unsur ke-1 : probabilitas terpilihnya unsure tertentu :

Penarikan unsur ke-2 : probabilitas terpilihnya unsur tertentu dari unsure-unsur yang tersisa :

Penarikan unsure ke-3 : probabilitas terpilihnya unsur tertentu dari unsur-unsur yang tersisa :

Penarikan unsure ke-n : probabilitas terpilihnya unsur tertentu dari unsur-unsur yang tersisa :

12. Sampel acak sederhana (simple random sampling) menurut Eriyanto adalah teknik pengambilan sampel yang memastikan setiap unsur mempunyai peluang yang sama untuk dijadikan sampel. Pemakaian metode sampel acak sederhana perlu memenuhi beberapa syarat : (1) Harus tersedia kerangka sampel; (2) Sifat populasi homogen dan keadaan populasi tidak terlalu tersebar secara geografis ( dikutip dari Ida Bagoes Mantra dan Kasto,” Penentuan Sampel “, dalam Masri Singarimbun dan Sofian Effendi ,Metode Penelitian Survei.

13. Sampel acak sistematis (systematic sampling) menurut Eriyanto adalah cara yang lebih sederhana untuk mengambil sampel jikalau tersedia sebuah daftar populasi dengan urutan tertentu. Pengambilan sampel sistematis adalah suatu metode dimana hanya unsur pertama saja dari sampel dipilih secara acak sedangkan unsur-unsur selanjutnya dipilih secara sistematis menurut suatu pola tertentu. Metode ini dijalankan apabila ada dua keadaan : (1) Apabila nama atau identifikasi dari individu dalam populasi itu terdapat dalam suatu daftar sehingga satuan-satuan tersebut dapat diberi nomor urut; (2) Apabila populasi terssebut mempunyai pola beraturan seperti urut abjad dan sebagainya (dikutip dari Ida Bagoes Mantra dan Kasto, Ibid, hlm. 160).

14. Sampel acak stratifikasi proposional. Sampel ini dipakai apabila populasi homogen, tetapi tidak bisa dipakai untuk populasi yang heterogen- berbeda dalam hal karakteristik populasi seperti tingkat pendidikan atau tingkat penghasilan. Ada tiga persyaratan yang harus dipenuhi apabila sampel acak stratifikasi proporsional dipakai : (1) Harus ada kriteria yang jelas yang dipergunakan sebagai dasar untuk menstratifikasi populasi ini dalam lapisan-lapisan; (2) Harus ada data pendahuluan mengenai starata populasi; (3) Harus diketahui dengan tepat jumlah elementer dari tiap lapisan (strata ) dalam populasi itu (dikutip dari Ida Bagoes Mantra dan Kato, op.cit, hlm. 160).

15. Sampel acak stratifikasi tidak proposional. Sampel ini pada dasarnya memiliki ide yang hampir sama dengan proposional. Perbedaannya terletak pada strata dengan sampel tidak sama dengan proporsi strata dalam populasi. Bisa saja dalam strata disajikan lebih, sementara strata lain disajikan kurang, (dikutip dari James D. Black and Dean J. Champion, Methods and Issues in Social Research, New York, John Willey & Sons Inc, 1976, hlm. 289-290). Teknik pengambilan sampel ini dipakai jikalau salah satu dari strata itu jumlahnya teramat kecil sehingga apabila dipakai strata proporsional, ada strata yang tidak terwakili dalam sampel.

16. Sampel klaster. Sampel ini digunakan untuk mengatasi ketiadaan kerangka sampel dalam penarikan sampel. Misalnya, penarikan sampel mahasiswa Yogyakarta, dimana ada 40 Perguruan Tinggi dengan 150.000 mahasiswa, belum termasuk akademi. Ada dua situasi dimana sampel klaster dipakai. Pertama, wilayah/area sampel tersebar amat luas sehingga untuk menyusun kerangka sampel amat susah. Kedua, peneliti tidak mempunyai kerangka sampel yang baik dari populasi ataupun kalau ada harus dibuat dengan biaya yang sangat mahal.

17. Sampel klaster proporsional (Probability Proportionate to Size/PPS). Dengan pemakaian sampel ini setiap anggota sampel mempunyai kesempatan yang sama besarnya untuk terpilih sebagai sampel. Inti dari metode ini adalah mengatur pemberian kesempatan lebih besar atau lebih kecil terhadap langkah pertama pengambilan sampel.

18. Sampel konvenien / accidental sampling, sampel ini dapat digambarkan seperti seorang wartawan televisi yang keluar ke jalan dan mewawancarai beberapa orang yang kebetulan ditemui di jalan. Apa yang dilakukan oleh wartawan itu juga suatu proses sampling, tetapi akibatnya menghasilkan sampel yang tidak representatif dan tidak menggambarkan populasi. Pemakaian sampel ini harus hati-hati, yaitu pada waktu suasana/kejadian khusus. Dalam situasi ini, tidak memungkinkan bagi peneliti untuk membuat kerangka sampel.

19. Sampel kuota (quota sampling) adalah metode yang merupakan perbaikan dan pengembangan dari sampel konvenien. Langkah-langkah dalam melakukan sampel kuota adalah sebagai berikut. Peneliti pertama kali membuat identifikasi kategori atau karakteristik dari orang yang akan disampel (laki-laki-perempuan,pendidikan tinggi-rendah, dsb) kemudian memutuskan berapa banyak orang yang akan dimasukkan ke dalam kategori. Peneliti membuat matrik berupa sel-sel yang akan dijadikan panduan oleh pewawancara di lapangan kemudian jumlah orang yang dimasukkan ke dalam tiap kategori ditentukan. Tenaga pewawancara diinstruksikan melengkapi kuota yang telah ditentukan dengan kebebasan memilih responden.

20. Purposive/judgment sampling. Sampel purposive digunakan dalam situasi khusus/menyertakan sampel yang khusus. Di sini peneliti membuat judgment dalam menyeleksi tresponden sesuai dengan tujuan polling. Ada dua keadaan dimana sampel purposive dipakai (dikutip dari Kenneth D. Bailly, Methods of Social Research,Third Edition, New York Free Press,1987,hlm. 94-95). Pertama, peneliti menggunakan sampel purposive untuk menyeleksi kasus untuk mendapatkan informasi khusus. Kedua, peneliti menggunakan sampel purposive karena sampel amat spesifik yang dikarenakan tema polling yang spesifik pula, sehingga kerangka sampel tidak dapat dibuat.

21. Sampel bertahap (multi-stage sampling). Menurut Wim van Zanten penyusunan sampel jenis ini ditentukan secara bertahap. Populasi dibagi dalam lapisan; kemudian sejumlah lapisan dipilih (tahap pertama). Setiap lapisan yang telah dipilih, dibagi lagi dalam kelompok. Dari setiap lapisan yang dipilih pada tahap pertama, dipilih lagi sejumlah kelompok. Begitulah seterusnya dengan beberapa tahap berikutnya. Untuk sampel ini, kerangka penarikan sampel juga dilakukan secara bertingkat

DAFTAR PUSTAKA

Mantra, Ida Bagoes dan Kasto, “Penentuan Sampel”, dalam Masri Singarimbun dan Soffian Effendi (ed), Metode Penelitian Survai, Edisi Revisi, Jakarta, LPЗES,1989.

Black, James D and Dean J. Champion, Methods and Issues in Social Research , New York, John Willey&Sons Inc, 1976.

Babbie, Earl R., Survey Research Methods, Belmont, California, Wadsworth Publishing Company, Inc, 1995.

Eriyanto, Metodologi Polling Memberdayakan Suara Rakyat, Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 1999.

Zanten, Wim van , Statistika untuk ilmu-ilmu social, Jakarta, PT Gramedia, 1982.

Ginting, Paham dan Syafrizal Helmi Situmorang, Filsafat Ilmu dan Metode Riset, Medan, USU Press, 2008.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan liat-liat

silahkan liat-liat